My Blog


MENGHARGAI HASIL KARYA ORANG LIAN
November 1, 2008, 2:12 pm
Filed under: Uncategorized

Menghargai Karya Anak bangsa

Beberapa hari yang lalu saya menerima email dari Dr. Rachmat W. Adi Staf Departemen Fisika FMIPA Universitas Indonesia dan staf Pembina TOFI. Dalam email tersebut beliau mewakili TOFI, sebagai salah seorang pembina mengucapkan terimakasih atas dukungan moril dan apresiasi saya terhadap prestasi yang diraih oleh Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Ketika menerima dan membaca email tersebut, ada rasa haru, senang bercampur sedih. Rupanya Dr. Rachmat W. Adi ini membaca komentar saya di tempointeraktif dot com. Merasa senang karena komentar saya dibaca beliau dan dianggap berharga. Sedih karena terbacanya komentar saya oleh beliau ini menunjukkan bahwa betapa kecil apresiasi dari masyarakat Indonesia terhadap prestasi yang diraih oleh TOFI. Sampai-sampai komentar saya di “pojokan” tempo terbaca oleh beliau. Dan ternyata hanya dua orang ( saya dan Marcel Susetyo) yang “membela” dan menunjukkan apresiasi terhadap prestasi TOFI pada komentar di Tempo saat itu.

Pada hari Minggu, 29 April 2007 saya membaca berita di tempointeraktif dengan judul ” Prestasi Olimpiade Sains Hanya Kamuflase”. Dalam berita tersebut disebutkan bahwa Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta Sukro Muhab, mengatakan prestasi olimpiade sains yang selama ini diperoleh Indonesia hanya kamuflase belaka. Sebab, menurutnya, medali emas yang diperoleh tersebut sama sekali tidak mencerminkan kondisi pendidikan dan kualitas manusia Indonesia.”Olimpiade sains hanya untuk gengsi negara, sama sekali tidak mencerminkan kondisi pendidikan kita,” katanya.

Sukro Muhab mengutip hasil survei yang dilakukan Third Mathematics and Science Study (TMSS)
beberapa waktu sebelumnya yang menunjukkan kemampuan siswa Sekolah Menengah Pertama di Indonesia dalam menangkap pelajaran matematika hanya menempati peringkat ke 34 dari 38 negara. Sukro juga mengutip survei lain yang menyebutkan bahwa indeks pembangunan manusia di Indonesia berjalan sangat lambat. Di Asia Tenggara, indeks pembangunan manusia Indonesia menempati posisi ke-7 di bawah Vietnam, Philipina, Thailand, Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Jadi yang saya tangkap dari berita akhir-akhir ini dan komentar para “pakar pendidikan Indonesia”, pokoknya menurut mereka, orang Indonesia itu goblok, katro, ndeso dan gak mutu.

Beberapa hari yang lalu saya juga baca bahwa Indonesia masuk Guinnes Book Of Record karena menjadi negara perusak hutan tercepat di dunia. lalu setelah terjadi kecelakaan transportasi beruntun di negeri kita, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan anjuran kepada warganya untuk tidak bepergian menggunakan maskapai penerbangan Indonesia.

Nah, stigma2 buruk yang ditempelkan pada bangsa kita ini kenapa selalu diamini oleh orang-orang latah yang berjudul pakar. Jadi ketika orang2 asing mengolok-olok kita (tentu saja ada tujuan politis di balik olok-lok yang terus menerus menyudutkan bangsa kita ini), para pakar serta LSM yang latah dan suka cari muka ikut ikutan menghina bangsa sendiri. Mungkin menurut mereka, kalau kita dikatakan goblok, maka yang harus kita lakukan adalah meyakinkan mereka bahwa kita benar-benar goblok. Kalau orang asing menghina kita sebagai bangsa yang terbelakang, maka kita harus mengamini dan memberikan bukti bahwa kita memang terbelakang.

Di mana harga dirimuuuuuuuuuuuuuuuuu??????????????????????????????????????????????

Kita sering menemukan hal yang menyedihkan dalam dunia intelektual kita. Para “intelektual”, “sastrawan”, “budayawan” serta “pejuang demokrasi” harus berani menghina dan mencari-cari aib bangsa sendiri untuk dibeberkan kepada orang asing agar sah menjadi intelektual dan sastrawan yang diakui. Ini apa namanya kalau bukan pengkhianatan? Bukankah fenomena seperti ini sangat menjijikkan. Mereka ini lebih pengkhianat dan lebih pantas dipenggal daripada aktivis PKI sekalipun. Orang-orang seperti ini “hidup dari menghina dan membeberkan aib bangsa sendiri”. Gak punya harga diri serta menjijikkan.

Kita tidak disegani di dunia internasional karena mentalitas para pengkhianat seperti ini. Banyak negara lain yang lebih goblok dan miskin serta terbelakang bisa membusungkan dada dan disegani di dunia internasional karena mereka punya harga diri dan bersusaha menjaganya. Tidak latah ikut menghina bangsa sendiri dan manut saja ketika dikatakan bodoh. Yang mereka lakukan ketika dihina adalah melakukan sesuatu dan meraih prestasi sehingga hinaan tersebut bisa ditepis.

Pendidikan Nasional Dan Prestasi

Logikanya, jika anak-anak kita sering berprestasi dalam olimpiade matematika, sains atau fisika di tingkat internasional, berarti memang banyak anak-anak Indonesia yang pintar. Kita wajib menghargai hasil usaha mereka dan berterimakasih karena prestasi mereka mengharumkan bangsa di tingkat dunia. Bukan dicela, dinista atau difitnah. Prestasi dalam bidang apapun yang bisa diraih oleh anak bangsa harus diduklung dan diapresiasi. Kita harus punya harga diri dan kehormatan.

Kenyataan bahwa anggaran pendidikan negara kita hanya 9 persen? serta tidak meratanya “distribusi pendidikan” sama sekali bukan alasan untuk tidak berprestasi. Dana milyaran yang dikatakan untuk membiayai persiapan olimpiade dijelaskan oleh Prof. Yanto PhD, Dirjen Mandikdasmen, mencakup seleksi dan pembinaan tingkat kabupaten sampai OSN untuk seluruh bidang dari SD sampai SMA. Jika memang ada yang mencurigakan dan dikhawatirkan terjadi kebocoran soal dana, maka seharusnya itu diserahkan pada auditur BPK, bukan menggembosi Tim Olimpiade atau mencemooh anak-anak yang berprestasi.
Olimpiade itu merupakan sebuah “iming-iming” atau perangsang bagi para siswa untuk lebih rajin belajar. Bukan sebagai tujuan. Seperti halnya hadiah yang diberikan kepada anak2 yang berprestasi di kelas.

Kalau para “pakar pendidikan” mengatakan bahwa dana yang digunakan untuk persiapan olimpiade itu terbuang sia-sia (karena hanya menghasilkan medali emas bagi segelintir siswa?) dan seharusnya digunakan untuk pemerataan pendidikan, atau dalam sudut pandang Gus Pur (Dr. Agus Purwanto, Fisika ITS) lebih baik digunakan untuk mencetak 200 Doktor sains, menurut saya pandangan semacam ini tidak tepat.

Ini bisa dianalogikan dengan orang yang memarahi para pelajar SMU di pulau Jawa dan Kalimantan atau Sulawesi yang berprestasi meraih ranking I di kelas masing-masing ketika terjadi tsunami di Aceh. orang tersebut memarahi para pelajar ini karena berprestasi dengan mengatakan: “kok kalian sempat belajar sampai meraih ranking I, padahal saudara-saudara kalian di Aceh kelaparan, kedinginan dan banyak yang meninggal. Kenapa kalian tidak berhenti belajar dan membantu mereka? Kenapa kalian justru asik belajar sampai bisa meraih ranking I di kelas?”

Menurut saya kalau ada orang yang memarahi para pelajar berprestasi ini ketika terjadi tsunami di Aceh, maka orang tersebut pasti tidak waras. Terjadinya bencana di tempat lain tidak berarti bahwa orang-orang di tempat lainnya tidak boleh berprestasi dan sukses. Dana, tenaga dan fikiran untuk mengurusi bencana harus ada. Dan dana, tenaga serta fikiran untuk berprestasi juga harus tetap ada. Ini tidak berarti bahwa orang-orang yang tinggal di tempat lain tidak memiliki empati. Ini masalah Job Description di dalam social life.

kalau saudara-saudara di tempat lain terkena bencana lalu saudaranya yang di tempat lain tidak bekerja dan beraktifitas, berarti semuanya akan hancur. Kalau ada anak yang tidak mampu sekolah lalu anak lainnya yang mampu ikut-ikutan tidak belajar karena empati dan simpati kepada yang tidak mampu sekolah, maka yang akan terjadi adalah “berbondong-bondong menjadi bodoh”.

Lagi pula, tujuan mengikuti olimpiade itu juga adalah mencerdaskan anak bangsa. Tidak keluar dari tujuan pendidikan nasional. Dalam penyaringan dan pembinaan dari tingkat daerah untuk persiapan olimpiade ini tentunya terjaring ratusan siswa pandai yang termotivasi untuk belajar lebih rajin dan justru sesuai dengan cara pandang Gus Pur untuk mencetak 200 Doktor Sains tersebut.

Para pakar pendidikan dan mereka yang peduli terhadap pendidikan nasional harus tetap memperjuangkan agar anggaran pendidikan nasional diperbesar. Tapi jangan sampai dengan cara mematikan semangat anak-anak bangsa untuk berprestasi. itu namanya Cara Bodoh. kalau ada orang yang tidak menghargai prestasi anak-anak Indonesia yang meraih medali emas dalam olimpiade fisika, matematika atau sains di tingkat internasional dan justru menggembosi dan mencemooh, bisa dipastikan orang tersebut TIDAK WARAS.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: