My Blog


BIMBINGAN BELAJAR
Januari 28, 2009, 7:35 am
Filed under: Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam proses belajar sangat diperlukan bimbingan bagi peserta didik. Masalah belajar adalah inti dari kegiatan disekolah. Sebab semua sekolah diperuntukkan bagi berhasilnya proses belajar bagi setiap siswa yang sedang studi disekolah tersebut.
Oleh karena itu memberikan pelayanan , bimbingan di sekolah berarti pula memberikan pelayanan belajar bagi tiap siswa. Untuk lebih jelasnya pemakalah akan membahas dalam bab selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN
BIMBINGAN BELAJAR BAGI SISWA

A. Pengertian Bimbingan Belajar

Bimbingan adalah suatu proses bantuan kepada anak didik yang dilakukan secra terus-menerus supaya anak didik dapat memahami dirinya sendiri, sehingga sanggup mengarahkan diri dan bertingkah laku yang wajar, sesuai dengan tuntunan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat menurut Drs. Ny Singgih D. Gunarsa tahun 1981, halaman 25.
Dengan rumusan tujuan bimbingan disekolah seperti tersebut jelaslah bahwa yang ingin dicapai dalam bimbingan adalah :
1. Kebahagiaan hidup pribadi
2. Kehidupan yang efektif dan produktif
3. Kesanggupan hidup bersama dengan orang lain
4. Keserasian antara cita-cita siswa dengan kemampuan yang dimilikinya.
Para ahli mendefenisiskan layanan bimbingan itu dengan cara yang bervariasi, namun selalu menunjukkan kepada hakekat, tujuan dan prosedur yang serupa. Dapat dikembangkan sebgai berikut :
a) Layanan bimbingan merupakan merupakan bantuan kepada individu tertentu
pernyataan bahwa layanan bimbingan hanya bersifat bantuan, mengandung arti bahwa guru (pembimbing)
bukan mengambil over masalah dan tugas, serta tanggung jawab pemecahan dari siswa (terbilang), melainkan hanya menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memecahkan permasalahannya dengan tanggung jawabnya sendiri
b) Dengan layanan bantuan itu diharapkan agar individu yang bersangkutan dapat mencapai taraf perkembangan dan kebahagian yang optimal.
Pencapaian taraf perkembangan atau perubahan perilaku itu bersifat kondisional, maksudnya bergantung pada pengaruh semua factor yang memberikan kontribusi yang ada bagi proses perkembangan tersebut.
c) Layanan bimbingan merupakan suatau proses pengenalan, pemahamam, pengarahan, perwujudan penyesuaian diri.

B. Karakteristik Siswa Dalam Belajar

Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya. Dengan demikian penentuan tujuan belajar itu sebenarnya harus dikaitkan atau disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik siswa itu sendiri.
Didalam karakteristik siswa ini ada 3 hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal, misalnya kemampuan intelektual, kemempuan berfikir, mengucapakn hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek psikomotornya.
2. Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dari status sosial
3. Karakteristik yang berkenaan dengan perbuatan, kepribadian, seperti : sikap, perasaan, minat dan lain-lain.
Adapun karakteristik siswa yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa antara lain :
a) latar belakang pengetahuan
b) gaya belajar
c) usia kronologis
d) tingkat kematangan
e) spectrum dan ruang lingkup minat
f) lingkungan sosial ekonomi
g) hambatan lingkungan dan kebudayaan
h) intelegensia
i) keselarasan
j) prestasi belajar
k) motivasi dan lain-lain
Di samping data atau keterangan-keterangan diatas, guru dalam perenannya sebagai pendidik, pembimbing dan pengganti orang tua. Disekolah perlunya mengetahui data-data pribadi diri anak didiknya seperti :
a) Keterangan pribadi seperti, nama, alamat, nama orang tua
b) Keadaan rumah seperti, pekerjaan ibu dan bapak
c) Kesehatan
d) Sifat-sifat pribadi

C. Diagnostis Kesulitan Belajar

Diagnostis merupakan istilah teknis yang kita adopsi dari bidang medis. Menurut Thomdike dan Hagen diagnosis dapat diartikan sebagai :
1. upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengkajian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya.
2. studi yang seksam terhadap fakata tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan den sebagainya yang esensial.
3. keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal
Menurut Burton kegagalan belajar adalah :
a) Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru
b) Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya, intelegensi, bakat)
c) Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial dengan pola organismiknya pada fase perkembangan tertentu, sepwerti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan
d) Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (level of mastery) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkatpelajaran berikutnya.
Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa seoarang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran criteria keberhasialan seperti yang dinyatakan dalam TIK atau ukuran tempat kapasitas atau kemampuan dalam program prlajaran atau tingkat perkembangannya.
Diagnostis kesulitan belajar adalah suatu proses upaya untuk memehami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan. Kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data / informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternative kemungkinan pemecahannya.
Tugas seorang guru bukan hanya sekedar menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa belajar, akan tetapi juga mendeteksi dengan cermat, apakah kegiatan-kegiatan belajar itu benar-benar telah berlangsung atau belum. Jika kita beranggapan bahwa sebagai bukti berlangsungnya kegiatan. Belajar itu adalsh terjadinya perubahan tingkah laku bagi siswa, maka penting bagi guru ialah menetapkan ceritera, seberapa jauh perubahan tingkah laku yang terjadi itu masih dapat dianggap sebagai hasil kegiatan belajar.
Atas dasar asumsi bahwa setiap yang memiliki kecakapan rata-rata (normal) akan mampu memperlihatkan terjadinya perubahan tingkah laku yang diharapkan asalkan kepada mereka diberi waktu yang sesuai dengan kecepatan belajar serta perkembangannya. Maka siswa yang belum memperlihatkan perubahan tersebut dalam waktu tertentu dianggap mengalami kesulitan belajar.
Jadi kesulitan belajar adalah hal yang menyangkut kesulitan-kesulitan yang dialami siswa untuk mencapai tujuan pengajaran yang diberikan, dalam waktu yang sesuai dengan siswa yang memiliki kecakapan rata-rata. Dari defenisi tersebut jelaslah kiranya bahwa skor rata yang tertinggi dalam sebuah kelas belum menjamin tidak adanya siswa yang mengalami kesulitan belajar, sehingga terhadap kelas seperti ini mungkin saja maish diperlukan program remedi.
Dalam memberikan bimbingan belajar guru hendaknaya memperhatikan beberapa prinsip :
1. bimbingan belajar diberikan kepada semua siswa
2. sebelum memberikan bantuan, guru terlebih dahulu harus berusaha memahami kesulitan yang dihadapi siswa, meneliti factor-faktor yang melatarbelakangi kesulitan belajar
3. bimbingan belajar yang diberikan guru hendaknya disesuaikan dengan masalah serta factor-faktor yang melatarbelakanginya
4. bimbingan belajar hendaknyamenggunakan teknik yang bervariasi
5. dalam memberikan bimbingan belajar hendaknya guru bekerjasama dengan staf sekolah yang lain
6. orang tua adalah pembimbing siswa belajar dirumah
7. bimbingan belajar dapat diberikan dalam situasi belajar dikelas, dan sebagainya ataupun dalam situasi-situasi khusus baik disekolah ataupun diluar sekolah.

D. Langkah-langkah dalam diagnosis kesulitan dalam belajar

Secara umum langkah-langkah pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar selaras dengan langkah-langkah pelaksanaan bimbingan belajar. Namun secara khusus langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar itu dapat diperinci lebih lanjut, mengingat pada hakekatnya hanya merupakan slah satu bagian atau jenis bimbingan belajar.

Ross dan staniey (1956 : 332-341) menggariskan tahap-tahap diagnosis itu sebagai berikut :
1. who are the pupils having trouble?
Siapa-siapa siswa yang mengalami gangguan?
2. here are the erros located?
Dimanakah kelemahan-kelamahan itu dapat dilokalisasikan?
3. why are the erros occur?
Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?
4. what remedies are suggested?
Penyembuhan-penyembuhan apakah yang disarankan?
5. how can erros be prevented?
Bagaimana kelemahan itu dapat dicegah?
Dari stema tersebut, tampak bahwa keempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan atau penyembuhan sedangkan langkag yang kelima merupakan usaha pencegahan.
Barton menggariskan agak lain yaitu berdasarkan kepada teknik dan instrument yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut :
a) general diagnosis
pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang diperlukan untuk evaluasi dan pengukuran psikologi dan hasil belajar. Sasarannya untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
b) Analistic diagnosis
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostis, sasarannya untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut
c) Psychological diagnosis
Pada tahap ini tahap pendekatan dan instrument yang digunakan antara lain :
1) Observasi
2) Analisis karya tulis
3) Analisis proses dan respon lisan
4) Analisis berbagai catatan objektif
5) Wawancara
6) Pendekatan laboratories dan klinis
7) Studi khusus

Hasil akhir dari layanan diagnostic kesulitan belajar baru sampai pada rekomendasi tentang kemungkinan alternatif tindakan penyembuhan, sedangkan teknik penyembuhan, khususnya yang bertalian dengan usaha remedial teaching.
Dua langkah operasional diagnostik kesulitan belajar yaitu :
a. Menandai siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Kalau kita menggunakan criterion referenced (pap) dengan berasumsi bahwa instrumen evaluasi atau soal yang kita pergunakan telah dikembangkan dengan memenuhi syarat, caranya dapat kita tempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Tetapkan angka nilai kualifikasi minimal yang dapat diterima sebagai batas lulus
2. Kemudian bandingkan angka nilai dari setiap siswa dengan angka niali batas lulus tersebut
3. Himpunlah semua siswa yang angka nilai prestasinya dibawah nilai batas lulus tersebut
4. Kalau mau mengadakan prioritas layanan kepada mereka yang diduga paling berat kesulitannya atau paling banyak membuat kesalahan, sebaiknya kita membuat rengking
dengan cara diatas maka kita bisa menandai :
– Kelas atau kelompok siswa tertentu sebagai kasus
– Individu-individu siswa sebagai kasus

Dengan hasil penandaan itu maka dapat dikatakan bahwa kelas atau individu-individu tersebut memerlukan bimbingan belajar karena prestasinya belum memenuhi apa yang diharapkan
Alternatif kedua, kita menggunakan norm-referenses dimana nilai prestasi rata-rata yang dijadikan ukuran pembanding bagi setiap nilai prestasi siswa secara individual. Dengan jalan demikian, maka kita akan mendapatkan sejumlah siswa kasus yang diduga mengalami kesulitan belajar karena jauh berbeda dibandingkan dengan rata-rata prestasi kelasnya.

b. Melokalisasikan letak kesulitan (permasalahan)
Setelah kita menemukan kelas atau individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar maka persoalan selanjutnya yang diperlukan adalah :
1. mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu
2. mendeteksi pada keluasan tujuan belajar dan bagian ruang lingkup bahan pelajaran manakah kesulitan terjadi
3. analisis terhadap catatan mengenai proses belajar.
Menurut Burton factor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut :
a. Factor-faktor yang terdapat dalam siswa
1. Kelemahan secara fisik
a) suatu pusat susunan syaraf tidak berkembang secara sempurna
b) ketidak seimbangan perkembangan dan reproduksi
2. Kelemahan-kelemahan secra mental
a) taraf kecerdasannya memang kurang
b) kurang semangat, kurang usaha
3. Kelemahan-kelemahan emosional
a) terdapatnya rasa tidak aman
b) penyesuaian yang salah terhadap orang-orang situasi dan tuntutan-tuntutan tugas dan lingkungan
c) tercekam rasa phobia (takut, benci dan ontipati)
d) ketidakmatangan
4. Kelemahan-kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap-sikap yang salah antara lain :
a) tidak menentu dan kurang menaruh minat terhadap pekerjaan-pekerjaan sekolah
b) banyak melakukan aktifitas yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjajan sekolah, menolak atau malas belajar
c) sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran
d) nervous
5. Tidak memiliki keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan seperti :
a) ketidak mampuan membaca, menghitung
b) memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah.
b. Factor-faktor yang terletak diluar siswa
1. Kurikulum yang seragam, bahan dan buku-buku sumber yang tidak sesuai dengan tongkat-tingkat kematangan dan perbedaan-perbedaan individu
2. Ketidak suksesan standar adminisratif, penilaian pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar-mengajar
3. Terlalu berat bahan belajar dan mengajar
4. Terlalu besar populasi siswa dalam kelas
5. Terlalu banuyak kegiatan diluar jam pelajaran sekolah.

E. Program Remedial dan Pengayaan

Remedial teaching atau perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau dengan singkat pengajaran yang membuat menjadi baik.
Kegiatan remedial adalah kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran. Sesuai dengan pengertiannya, tujuan kegiatan remedial ialah membanti siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang berlaku.
Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, fungsi kegiatan remedial adalah :
1. Memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru (fungsi korektif)
2. Meningkatkan pemahaman guru dan siswa terhadap kelebihan dan kekurangan dirinya (fungsi pemehaman)
3. Menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa (fungsi penyesuaian)
4. Mempercepat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran (fungsi ekselerasi)
5. Membantu mengatasi kesulitan siswa dalam aspek sosial, pribadi (fungsi terapeutik)

Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang diduga akan mengalami kesulitan, setelah kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar atau selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran biasa.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan remedial adalah :
a) analisis hasil diagnosis kesulitan belajar
b) menetukan penyebab kesulitan
c) melaksanakan kegiatan remedial
d) menyusun rencana kegiatan remedial
e) menilai kegiatan remedial

Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memenfaatkan sisa waktu yang dimilikinya.
Layanan ini dikenakan pada siswa yang kelemahannya ringan dan secara akademik mungkin termasuk berbakat, dengan cara :
– pemberian tugas / pekerjaan rumah
– pemberian tugas / soal dikerjakan di kelas
Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
Tugas yang dapat diberikan guru kepada siswa yang mrngikuti kegiatan pengayaan diantaranya adalah, memberiakan kesempatan menjadi tutor sebaya, megembangkan latihan praktis dari materi yang sedang dibahas, membuat hasil karya, melekukan suatu proyek, membahas masalah, atau mengerjakan permainan yang harus diselesaikan siswa. Adapun kegiatan yang dipilih guru, handaknya kegiatan pengayaan tersebut menyenagkan dan mengembangkan kemampuan kognitif tinggi sehingga mendorong siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Bimbingan adalah suatu proses bantuan kepada anak didik yang dilakukan secara terus menerus supaya anaj didik dapat memahami dirinya sendiri, sehingga sanggup mengarahkan diri dan bertingkah laku yang wajar.
Langkah-langkah dalam diagnosis kesulitan belajar :
1. Who are the pupils having trouble?
2. Here are the erros located?
3. Why are the erros occur?
4. What remedies are suggested?
5. How can erros be prevented?

Remedial adalah kegiatan yang ditujukan untuk mambantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dan menguasai materi pelajaran.
Kegiatan pengayaan adalah yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara aptimal dengan mememfaatkan sisa waktu yang dimilikinya.

B. Saran

Dalam pembuatan makalah ini tentu masiah banayk terdapat kekurangan. Pemakalah mengharapakan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta. 2004
Makmur, Abin Syamsuddin. Psikologi kependidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2005
Sudurman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarata : Raja Grafindo Persada. 1996
Http: // Bugisha. Blogspot. Com
Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2005
Http : // Massofa. Wordpres. Com


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: